Hari Paramuda: Merantau untuk Belajar, Pulang untuk Mengabdi

0
270

MOROWALI UTARA — Sedikit cerita perjalanan hidup seorang Pengusaha Muda Hari Paramuda, yang tumbuh di Desa Pandauke, Kecamatan Mamosalato, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Hari Paramuda kecil adalah sosok yang pemberani, periang dan pantang menyerah. Lahir dari rahim ibu yang bernama Nurbayang dan Ayah Rudi Ednaryo, Hari Paramuda dibesarkan dalam keluarga pedagang, sang ibu mengajarkannya cara berdagang sejak dini dengan berjualan di Warung dan Pasar membuat ia sangat hobby dalam ilmu perdagangan sejak usia dini.

Hari Paramuda ketika berkunjung di pusat Kota Belgia

Mengenyam dunia pendidikan Sekolah Dasar di Pandauke, Desa kecil yang sebelumnya adalah Kabupaten Poso, kemudian dimekarkan menjadi Morowali dan sekarang menjadi Kabupaten Morowali Utara, tidak menghentikan semangatnya untuk bermimpi menjadi orang sukses yang bisa bermanfaat untuk keluarga dan lingkungannya.

Setelah lulus SD, Hari Paramuda meminta kepada ibunya untuk bersekolah di Kota Palu mengikuti pamannya yang bernama Makmur Hi Kusayyeng (Alm).

Di sinilah proses belajar hidup langsung dirasakan sosok anak kecil yang memiliki mimpi besar. Dia tau bahwa kehidupan di Kota berbeda dengan di Desa, apalagi dalam kondisi jauh dari orang tua membuatnya tidak bermanja-manja.

Hari Paramuda saat berada di Tanjung Benoa Bali

Di Palu, Hari Paramuda tidak hanya bersekolah, dia juga mempraktekan Ilmu berdagang yang diajarkan oleh ibunya. Ketika pulang Sekolah, dia berdagang di Pasar Inpres Palu dengan berjualan ikan Asin yang diambil dari Distributor pamannya sendiri.

Sempat mengalami Bully dari beberapa temannya yang mengejeknya sebagai penjual ikan asin, tidak membuat Hari patah semangat dan malu. Hari kecil hanya membalas kata bullyan itu dengan candaan “Ga apa-apa penjual ikan asin, tapi jajan 50 ribu rupiah setiap hari”. Jajan ini diambil dari keuntungan berdagang di Pasar.

Hari Paramuda memperlihatkan hadiah sepeda dari Presiden RI Joko Widodo

Dalam dunia pendidikan, Hari Paramuda kecil juga bisa dibilang berprestasi. Masih di bangku SMP Al-Azhar Palu, ia sudah mampu menguasai Bahasa Inggris dalam waktu singkat.

Setelah menyelesaikan Pendidikan SMA, Hari Paramuda memutuskan pulang ke kampung halamannya di Pandauke. Saat itu ada Perusahaan yang melakukan investasi pengeboran minyak di Desa Pandauke, Hari Paramuda memberanikan diri untuk berteman dengan para pekerja Kapal Tanker di Perusahaan tersebut yang mayoritas adalah warga asal India.

Hari Paramuda bersama sahabatnya di Pantai Jimbaran, Kabupaten Badung, Bali

Karena Hari bisa berbahasa Inggris, komunikasi bukanlah masalah buatnya. Teman-temannya di Kampung pun berkelakar “Ga percuma juga kamu Sekolah di Kota bisa berbahasa Inggris”.

Hari paramuda sering diajak menemani para pekerja untuk jalan-jalan ketika waktu senggang sebagai translator mereka dalam berkomunikasi dengan masyarakat atau berbelanja barang di pasar.

Dalam proses pertemanan inilah, Hari Paramuda mendapatkan tawaran pekerjaan profesional pertamanya dari Boss Kapal Tanker untuk menyuplai kebutuhan di kapal mereka.

“Awalnya saya ragu karena kekurangan modal, tapi akhirnya diterima karena yakin Tuhan pasti membantu,” tuturnya.

Setahun berjalan, mimpi Hari Paramuda tidak berhenti sampai disitu. Ia memutuskan untuk merantau ke Ibu Kota Jakarta. Di Jakarta ia mengawali dengan membuka bisnis Laundry, kemudian ia banyak bergaul dan mendapatkan teman-teman yang membantu untuk menjembatani ke beberapa Client potensial seperti BUMN dan Perusahaan Swasta lainnya yang ada di Jakarta untuk mendapatkan bisnis dari Perusahaan tersebut.

“Alhamdulillah satu tahun berjalan sudah bisa bekerjasama dengan Anak perusahaan Garuda Indonesia, Panasonic Gobel dan beberapa perusahaan lainnya di Jakarta,” ucapnya.

Saat ini, Hari juga merambah ke bisnis pariwisata dengan membuka Restaurant di Pulau Bali dan Labuan Bajo.

“Awalnya modal terbatas, akan tetapi ada saja kerabat yang membantu dalam permodalan sehingga bisnisnya dapat berjalan sampai saat ini dan mampu mandiri, kuncinya adalah amanah dan menghargai pertemanan karena melalui pertemananlah rezeki dikirimkan oleh Tuhan. Poinnya, bertemanlah dengan tulus dan jadilah orang baik, jika kita tidak menemukan orang baik maka orang baik lah yang akan menemukan kita,” tuturnya.

Dalam prosesnya, Hari terus belajar dengan beberapa mentor di Jakarta untuk terus mengembangkan diri, Hari Paramuda juga masuk di beberapa organisasi seperti Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), untuk terus memperluas pertemanan dan jaringan bisnisnya.

Sebagai anak muda yang mempunyai mimpi besar, dia juga tidak bekerja terus menerus, Hari Paramuda juga tidak Lupa untuk menikamati hidup dengan berjalan-jalan entah itu di dalam ataupun Luar Negeri yang bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan.

Saat ini Hari Paramuda sudah menganjak dewasa, dari sekian banyak perjalanan dan pelajaran hidup yang dilaluinya, ia sangat paham bahwa tujuan hidup adalah kebermanfaatan untuk masyarakat.

Hari Paramuda memutuskan untuk mulai meramba ke dunia Politik, maju bertarung sebagai calon Anggota Legislatif DPRD Provinsi Sulteng Dapil VI (Morowali dan Morowali Utara) melalu Partai Nasdem.

“Jika selama ini saya merantau untuk belajar, maka saat ini saya pulang kampung karena rindu dan untuk mengabdi ke masyarakat,” tuturnya. (*)

LEAVE A REPLY